Huruf Miring dan Kata Turunan yang Tepat Sesuai EYD

Penggunaan Huruf Miring dan Kata Turunan yang Benar dan Tepat Sesuai EYD

       Penggunaan huruf miring yang benar berdasarkan kaidah bahasa indonesia yang benar.
dalam sebuah penulisan karya tulis ilmiah seperti makalah, puisi, novel, cerpen, essay, bahkan skripsi dalam prosesnya tidak dilakukan sembarangan. kita tidak bisa asal menulis atau mengetik materi, tentu saja karena dalam pembuatan sebuah karya tulis ada ketentuan atau sebuah hukum yang wajib diikuti oleh setiap penulis. seperti memperhatikan bahasa yang digunakan, penulis harus mengunakan bahasa nasional yang benar tentunya sesuai kaidah bahasanya selain itu penulis juga harus memperhatikan dalam struktur peulisan mulai dari yang terkecil adalah tanda baca sampai klasifikasi kata.


Nah dalam kesempata kali ini saya akan menjelaskan mengenai penggunaan huruf miring dalam sebuah karya tulis. huruf miring adalah suatu huruf yang sengaja ditulis miring, hal tersebut bukan tanpa alasan seperti dalam sebuah karya tulis huruf miring digunakan jika ada suatu istilah dalam bahasa asing. tetapi dalam penerapannya huruf miring tidak hanya sekedar digunakan jika ada sebuah istilah bahasa asing saja, agar lebih jelas langsung saja.

Huruf Miring

  • 1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalahm dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan

misalnya :
Majalah Bahasa dan Kesastraan, Surat kabar Pikiran Rakyat.

  • 2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau juga kelompok kata.

Misalnya :
Huruf pertama kata indah adalah i, ia bukan menipu, tetapi ditipu.

  • 3. Huruf miring digunakan dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.

Misalnya :
Nama ilmiah buah manggis ialah Carnicia mangostana, atau bisa juga seperti politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.


Bandingkan contoh diatas dengan contoh berikut ini :

Negara itu telah mengalami empat kali kudeta. ( Catatan : Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring diberi satu garis dibawahnya )

Selain penggunaan huruf miring ada juga ketentuan dalam penulisan kata. dalam teorinya penulisan kata itu terdapat dua macam yang pertama adalah kata dasar ( cukup jelas ) ataupun kata turunan. yang akan dijelaskan disini hanya kata turunan saja karena kata dasar kebanyakan sudah diketahui. langsung saja tidak usah berlama – lama.

Kata Turunan

  • 1. Imbuhan ( awalan, sisipan, akhiran ) ditulis serangkai dengan kata dasarnya, ( cukup jelas )
  • 2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan, atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikutiatau mendahuluinya. Misalnya : bertepuk tangan, garis bawahi.
  • 3. Jika bentuk dsara yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai. Misalnya : Menggarisbawahi, Menyebarluaskan.
  • 4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai. Misalnya : antarkota, dasawarsa, demoralisasi, mancanegara, narapidana, ultramodern.

Catatan :

Jika bentuk terikat diikuti oleh kata dengan huruf awal huruf kapital, diantara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung ( – ). Misalnya : Non – Indonesia, Non – Jepang.
Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah. Misalnya : Tuhan yang Maha Esa, yang Maha Pemurah, yang Maha Kuasa.

Leave a Reply